Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Terapi Secara Holistik, Seperti Apa Sih? (1)

Tulisan pertama dari 3 tulisan

Terapi secara Holistik, Seperti Apa sih? (1)

Pendahuluan

Secara umum, dunia mengenal 2 (dua) cara pengobatan/therapy , secara modern dan tradisional. Cara modern biasanya dilakukan oleh seorang dokter , yang mendapatkan pendidikan dulu secara khusus di Fakultas Kedokteran. Setelah lulus dan mendapatkan Surat Izin Praktek (SIP), barulah dapat berpraktek, baik di Rumah sakit, maupun berpraktek sendiri/swasta. Karena mendapatkan dasar-dasar ilmu kedokteran secara modern dari Barat, maka obat-obatan yang digunakan, juga berasal dari hasil riset para ilmuan dari Negara-negara Barat (baca: maju). Umumnya obat-obatan tersebut adalah obat-obatan kimiawi dan antibiotika sintetis. Dokter mengobati berdasarkan rujukan dari hasil pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan secara lab ini tingkat akurasinya sangat tinggi karena dilakukan oleh alat-alat modern yang terukur. Oleh karena itu perhitungan dosis juga sangat jelas. Cara tradisional biasanya dilakukan oleh orang-orang yang mendapatkan ilmunya secara turun-temurun, atau belajar secara khusus kepada orang yang dianggap sudah memiliki ilmu pengobatan dan sudah berpengalaman mengobati orang. Karena itu metoda dan alat yang digunakanpun bermacam-macam. Ada yang ‘hanya mengandalkan’ air putih dan doa, pijat/urut, daun-daunan dan akar-akaran (jamu-jamuan). Obat-obatan tradisional ini ukuran dosisnya belum memakai takaran/ukuran yang jelas dan terstandar.

Permasalahan

Dasar dari setiap tindakan pengobatan (baca: pemberian obat), adalah diagnosa . Sama seperti jawaban dari pertanyaan, “mengapa kita makan?” karena lapar! “mengapa kita minum?” karena haus. Jadi setiap tindakan pemberian obat harus berdasarkan fakta, bahwa tubuh memang membutuhkan obat tersebut, bukan alasan lain yang tidak benar, apalagi yang tidak berdasar. Fakta di lapangan menunjukkan, bahwa perbandingan antara jumlah dokter dan pasien, khususnya di Indonesia, terlebih didaerah pedesaan, masih sangat tinggi, maka waktu yang dimiliki oleh seorang dokter untuk memeriksa seorang pasiennya, jauh dari ideal. Bagaimana mau bertatapmuka selama 30 menit untuk membahas hasil General Check Up sang pasien, mendengar semua keluhannya secara lengkap (anamnese) , mengambil kesimpulan/diagnose penyakitnya, dan akhirnya menentukan tindakan dan obat apa yang terbaik bagi sang pasien, bila dalam rentang waktu 2 jam saja harus dapat melayani 30 orang pasiennya? (dokter praktek antara pukul 08.00 – 10.00 dan 16.00 – 18.00). Apa hasil terbaik yang bisa didapat hanya dengan (120 menit : 30 orang =) 4 menit saja?!. Tentu tidak banyak yang bisa diharapkan. Seperti kita ketahui, ada beberapa jenis penyakit berbeda yang menunjukkan gejala klinis yang sangat mirip, sepintas malah sama saja. Ini yang oleh para dokter dicatat sebagai differesial diagnose. Dengan kemampuan mayoritas masyarakat kita yang sangat rendah, karena sang Krismon yang enggan pergi dari bumi kita, maka jangankan melakukan General Check Up , untuk dapat pergi ke dokter saja, mungkin harus pinjam dulu ke saudara atau tetangga, atau menjual dulu barang yang dianggap berharga. Di sisi lain, sang dokter ‘mungkin’ terpaksa memberi resep berdasarkan dugaan dari beberapa kemungkinan diagnosanya tadi. Maka biasanya pasien diberi resep untuk 3 hari. Bila penyakitnya membaik, bahkan sembuh, bersyukurlah, karena artinya dugaan pertama langsung tepat. Pasien pun bila sudah merasa baikan, enggan kembali lagi ke dokter. Pertimbangan keuangan sangat berperan disini. Namun bila ternyata tidak menunjukkan perbaikan, bahkan bertambah berat, pasien terpaksa kembali lagi ke dokternya. Dokter pun berjanji memberikan obat yang ‘lebih kuat’, padahal mungkin memberikan alternative ke-2 dari differensial diagnose- nya. Dokter mungkin terpaksa melakukan coba-coba dalam memberikan obatnya, karena keterbatasan data penyakit pasiennya, juga waktu untuk memeriksanya. Ini seperti lingkaran setan. Mau membantu, tapi waktu dan sarana kurang mendukung. Bisa dikatakan, akar dari semua ini adalah keterbatasan kemampuan financial /keuangan. Bila pasien punya uang, tidak perlu pusing, karena dia bisa pergi ke RS terbaik dan mendapatkan perawatan terbaik. Salahsatu solusi yang diambil mereka yang kurang mampu dalam hal keuangan adalah dengan mengambil pengobatan alternatif. Dunia kesehatan sudah sejak dulu mengenal berbagai jenis cara pengobatan/terapi. Nama terapis/pengobatnya juga bermacam-macam: di Arab dikenal sebagai Tabib , di negeri Cina dengan Sin she , di Indonesia kita mengenalnya sebagai Dukun/Paranormal. Peran mereka/para terapis ini cukup besar, mengingat kemampuan pengobatan modern yang masih terbatas. Harapan mereka adalah, dengan biaya yang relative lebih murah, dapat diperoleh kesembuhan, seperti yang selama ini mereka dambakan. Sesuai dengan istilah yang diberikan (alternative), ini adalah pengobatan alternative, sebagai jalan lain dalam  rangka  mendekatkan diri menuju proses kesembuhan. Biasanya langkah ini ditempuh setelah mencoba beberapa kali menempuh jalan pengobatan modern di rumah sakit, setelah dirasa tidak memperoleh hasil yang diharapkan, atau (banyak juga terjadi) sudah ‘divonis’ oleh para dokter, bahwa harapan untuk sembuh sudah (hampir) tertutup, dan bahwa para dokter sudah maksimal dalam berusaha, namun (kata mereka) tidak ada lagi yang dapat mereka lakukan..! . Bagaimanapun juga, tidak ada seorangpun yang benar-benar siap menghadapi maut, maka ditempuhlah jalur alternative ini. Kalau sudah dalam posisi genting begini, cara apapun akan ditempuh. Setiap ada informasi yang mengatakan bahwa ada seorang pintar atau orang bergelar mbah yang dapat menyembuhkan penyakitnya, walaupun lokasinya cukup jauh dan biaya pengobatannya tidak sedikit, mereka akan menempuhnya juga. Sayangnya, tidak sedikit dari mereka yang malah menjadi korban para dukun palsu yang hanya mengail di air keruh. Para penipu ini memanfaatkan kepanikan yang melanda mereka yang sudah divonis bahwa harapan hidupnya tinggal menghitung hari, dengan memberikan harapan palsu. Tragis memang, tapi apa mau dikata, dengan tingkat pendidikan yang rata-rata masih rendah, mudah jadi korban penipuan orang-orang pintar (kaya  ilmu) tapi tidak bermoral (miskin akhlak).

(Bersambung ke tulisan ke-2,   Solusi..)

 

Thu, 17 Dec 2009 @14:00


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 4+4+4

Copyright © 2010 Deny Setiawan, DVM · All Rights Reserved



RSS Feed

Powered by sitekno