Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Terapi secara Holistik, Seperti Apa sih? (2)

Tulisan kedua dari 3 tulisan

Terapi secara Holistik, Seperti Apa sih? (2)

Solusi

Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, selama kita sungguh-sungguh mencarinya. Tipikal dari pengobatan modern adalah symptomatic , cenderung mengobati gejalanya saja, bukan penyebab utama masalahnya. Kenapa? Karena dokter mengalami kesulitan untuk mengetahui akar masalah -nya, mengingat keterbatasan waktu dan minimnya anggaran yang dimiliki para pasien, seperti telah disebutkan pada tulisan pertama. Selain itu  dengan penggunaan obat-obatan modern yang dibuat dari bahan-bahan kimiawi dan antibiotika sintetis, kini terbukti bahwa banyak terjadi side effect /efek samping yang tidak dikehendaki, terutama untuk kasus penyakit chronis /menahun, dimana pasien meminum obat-obatan selama bertahun-tahun. Obat-obatan ini, yang diproduksi secara pabrikan, diberikan dengan dosis yang cukup ketat karena jarak antara dosis terapi (Effective Dose/ED) dengan dosis  keracunan (Lethal Dose/LD) , cukup dekat. Tidak jarang terjadi, penyakit utamanya belum teratasi hingga tuntas, muncul lagi penyakit lain, akibat terjadinya residu /penumpukan sisa obat-obatan yang diminum selama bertahun-tahun dan tidak mampu dikeluarkan secara tuntas oleh tubuh. Contoh nyata terjadi pada penulis. Selama kira-kira 13 tahun (sejak 1982 – 1995) lamanya menderita sakit maag /lambung, dan meminum berbagai macam obat maag. Apapun merk-nya, obat maag isinya basa , bercampur dengan asam lambung , menghasilkan garam . Karena terjadi bertahun-tahun, garam mengendap di ginjal, terutama yang kanan, maka penulis menderita calculi renalis /kencing batu. Bila ditangani secara modern, maka solusinya adalah operasi , untuk mengeluarkan batu tersebut, atau ditembak dengan Ultra Sonic, yang tujuannya untuk memecahkan batu tersebut. Tetapi nanti pada saat dikeluarkannya pecahan batu yang kecil-kecil (yang besar disedot dengan alat), menimbulkan rasa sakit yang betul-betul lumayan.! (saran penulis sih, jangan pernah merasakan sakitnya..!) . Maka penulis memilih untuk menggunakan pijat reflexi dan herbal untuk memecahkan batu tersebut Alhamdulillah, dengan kombinasi keduanya, batu karang di ginjal hancur, mengurai kembali menjadi butir-butir pasir yang halus, sehingga dapat keluar bersama urine, tanpa terasa sakit samasekali.! . Pengalaman ini memberikan motivasi untuk menangani penyakit maag-nya. Hasilnya, kalau dulu sedikit terlambat makan, perut langsung perih dan kembung, sekarang tidak lagi. Pengobatan secara tradisional dengan herbal cukup baik karena herbal relative aman terhadap tubuh (jarak antaran ED dan LD cukup jauh), namun kekurangannya, karena yang menangani bukan tenaga medis terdidik, diragukan kemampuannya untuk mendiagnosa penyakitnya, padahal diagnosa adalah dasar/alasan dari diberikannya obat yang tepat. Pengukuran dosis yang tepat seperti halnya pada industri farmasi yang sudah memiliki standar baku, sehingga penghitungan zat aktif pada tiap satuan beratnya bisa jadi berbeda, dan ini dapat menimbulkan masalah pada penentuan dosisnya. Bila pada pengobatan secara modern, kelebihannya pada diagnose yang akurat, namun kekurangannya pada penumpukan residu obat yang dapat meracuni tubuh. Disamping itu kecenderungan pola pengobatan yang symptomatic , membuat penyakit tidak tertangani hingga tuntas ke akar masalahnya. Penyakit jadi cenderung kronis/menahun. Tentu saja penderitaan pasien jadi panjang, disamping biaya jadi sangat besar. Solusi terbaik adalah dengan menggabungkan keduanya, mengambil kelebihan dari masing-masing cara. Pengobatan modern unggul dalam menentukan diagnose karena menggunakan peralatan yang modern sehingga tingkat akurasi diagnosanya  juga tinggi. Sementara pengobatan secara tradisional menggunakan herbal yang tingkat resiko keracunannya sangat rendah. Memang, untuk mendapatkan hasil diagnose yang akurat, diperlukan pemeriksaan laboratorium yang menyeluruh (General Check up ), dan dianalisa oleh seorang dokter, yang memang menguasai bidangnya. Harus diakui, melakukan pemeriksaan General Check Up tidaklah murah. Tapi bila kita melakukan pengobatan/terapi tanpa patokan yang jelas dimana letak masalahnya, maka disamping prosesnya menjadi berlarut-larut dan lama, penderitaan pasien juga bertambah, biaya yang dikeluarkan pun hampir pasti jadi jauh lebih mahal. Maka kalo kita mau menghitung-hitung, ternyata dengan melakukan General Check Up , justru menghemat biaya pengobatan, karena langsung pada sasaran, tidak muter-muter dulu. Sekali lagi, karena untuk dapat mendiagnosa suatu penyakit memerlukan keahlian khusus, maka ini harus ditangani oleh orang yang memang ahli dibidangnya, yaitu seorang dokter. Kalau pun ada seorang terapis yang berpengalaman menangani berbagai kasus, ingin mendalami bagaimana dapat ‘membaca’ hasil lab dengan benar, dia haruslah menjalani pelatihan dengan benar, di Fakultas Kedokteran ataupun Rumah Sakit, dibimbing oleh seorang dokter Spesialis Patologi Klinik (dr SpPK). Dia dapat menjadi mitra dokter yang dapat diandalkan. Bagaimanapun juga harus diakui, tenaga dokter yang tersedia masih jauh dari kebutuhan yang wajar. Setelah proses diagnosa dapat dilakukan dengan baik dan benar, maka proses pengobatannya dilakukan dengan herbal dan mencakup akar masalahnya. Kenapa? Karena sekarang sudah diketahui, darimana  penyakit berasal dan kemana dia berkembang. Penggunaan herbal relative lebih aman dan dapat dikatakan hampir tidak ada resiko keracunan obat. Tetapi pertanyaannya adalah, herbal yang seperti apa? Penulis (sejak 1997),  menggunakan herbal yang telah diteliti selama bertahun-tahun, bahkan hingga 30 tahun, oleh para professor dan doktor yang juga berlatarbelakang seorang dokter. Mereka menyadari bahwa ternyata cukup banyak kasus penyakit yang tidak tertangani hingga tuntas bila hanya mengandalkan obat-obatan modern. Herbal ini telah mengalami proses ekstraksi, sehingga dengan dosis yang wajar sudah dapat mewakili jumlah yang cukup banyak bila tidak diproses ekstraksi dulu. Sekarang ini sudah mulai timbulnya kesadaran dikalangan masyarakat, juga di dunia kedokteran, dalam upaya memperoleh kesembuhan, untuk kembali menggunakan bahan-bahan yang berasal dari alam/Back to Nature. Penulis memang tidak se-aliran dengan Prof. Hembing, dimana beliau memberikan langsung herbal-herbalnya dalam kondisi yang masih segar. Kenapa? Penulis menyadari, bahwa tidak semua pasien cukup sabar untuk melakukan upacara dulu, menyiapkan bahan-bahan untuk diolah (rebus dsb), sebelum diminum. Disamping memakan waktu yang tidak sebentar, rasa herbal yang original (baca: sangat pahit!), tidak semua orang mau. Sekarang ini orang sakit pun ingin ‘obatnya’ cukup enak sehingga dapat dinikmati. Setidaknya tidak stress dulu sebelum minum obat. Ini penting sekali diperhatikan, karena akan percuma saja herbalnya berkhasiat tinggi, kalo diminum saja tidak. Penting pula disadari, bahwa tugas dokter adalah mendiagnosa penyakitnya , sementara untuk mengobati, itu adalah tugas obatnya (diluar tindakan operasi, bila itu memang harus dilakukan). Jadi sekarang tergantung kepada kualitas obatnya, apakah dapat mengobati hingga ke tahap penyembuhan, atau malah bertambah complex dan parah!. Untuk ‘memantau’ perkembangan proses pengobatannya, dapat dilakukan Check Up pada 1 bulan setelah proses pengobatan dilakukan. Ini dapat diulangi pada bulan–bulan berikutnya. Dengan demikian dokter dan pasien dapat sama-sama mengetahui perkembangannya. Menurut pengalaman penulis, ternyata bila proses ini dilakukan, secara keseluruhan biaya pengobatannya jadi jauh lebih murah dan memberikan hasil yang memuaskan, baik untuk penulis, juga pasiennya. Dengan melihat hasil General Check Up , dapat dilihat kondisi yang akurat saat itu. Tapi dengan melihat pula hasil beberapa hasil General Check Up sebelum yang terakhir, dapat dilihat seberapa cepat penyakit ini berjalan (atau berlari , karena begitu cepatnya menyebar), seberapa kans/ peluang untuk memenangkan perang melawan penyakitnya. Ini menjadi sangat krusial bila menghadapi pasien yang sudah mendapatkan vonis , bahwa penyakitnya sudah terlalu berat untuk disembuhkan..

(Bersambung ke tulisan ke-3, Berbagi Pengalaman ..)

 

Wed, 23 Dec 2009 @10:26


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 0+3+1

Copyright © 2010 Deny Setiawan, DVM · All Rights Reserved



RSS Feed

Powered by sitekno